BANDAR LAMPUNG – Paguyuban Pasundan Wilayah Lampung menggelar acara Pangaosan (Pengajian) dan Iftor Jama’ah (Buka Puasa Bersama) di Aula RRI Bandar Lampung, Jumat 27 Februari 2026. Acara yang dihadiri oleh 44 orang peserta ini menjadi ajang konsolidasi sekaligus penguatan nilai-nilai budaya Sunda bagi warga perantauan di Lampung.
Kegiatan yang dipandu oleh Teh Nurul ini diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Quran oleh Hj. Saniah. Suasana khidmat menyelimuti ruangan saat lantunan ayat suci menggema, membuka rangkaian silaturahmi warga keturunan Sunda tersebut.
Kepala RRI Bandar Lampung, Budi Suwarno, dalam sambutannya mengapresiasi pemilihan RRI sebagai lokasi kegiatan. Ia menegaskan bahwa RRI adalah “Rumah Rakyat Indonesia” yang terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat untuk kegiatan budaya dan sosial.
Sementara itu, Pupuhu Paguyuban Pasundan Lampung, Dr. Ir. KH. Abdul Hakim, M.M., memaparkan filosofi hidup orang Sunda yang dirangkum dalam empat pilar:
•Nyunda: Memiliki budi pekerti luhur dan berbudaya.
•Nyantri: Taat beragama dan konsisten mempelajari ilmu ketuhanan.
•Nyakola: Berpendidikan dan mengutamakan ilmu pengetahuan.
•Nyantika: Mengedepankan etika dan menempatkan sesuatu pada tempatnya.
”Esensi Nyunda itu ada pada akhlakul karimah. Kita ingin membangun ekosistem masyarakat yang tidak berhenti belajar,” ujar KH. Abdul Hakim.
Dosa Adalah Virus
Dalam sesi tausiyah, Prof. Dr. Abdurrahman Abe, M.Si. memberikan pesan mendalam mengenai kaitan antara dosa dan produktivitas hidup. Beliau menjelaskan filosofi kata Ismun (dosa) dalam bahasa Arab yang memiliki makna “lambat” atau “telat”.
“Orang yang berdosa itu semuanya menjadi lambat; ibadah lambat, rezeki pun lambat. Ibarat komputer atau ponsel yang terkena banyak virus, sistemnya akan menjadi lemot atau lelet. Begitu juga dengan manusia, dosa adalah virus yang menghambat integritas dan langkah kita,” jelas Prof. Abe.
Beliau menekankan bahwa ibadah puasa di bulan Ramadan adalah proses pembersihan diri agar manusia kembali fitrah dan terbebas dari “virus” yang menghambat kemajuan kualitas hidup tersebut.
LSAF Ke-8
Selain aspek religi, pertemuan ini juga membahas agenda besar Lampung Sundanese Art Festival (LSAF) ke-8 yang direncanakan akan digelar di Lampung Selatan. Prof. Ujang Suparman memaparkan bahwa festival ini akan menampilkan berbagai kekayaan kuliner, seni pencak silat, hingga pertunjukan musik tradisional Sunda untuk memperkenalkan budaya Jawa Barat kepada masyarakat Lampung secara lebih luas.
Senada dengan semangat tersebut, Prof. Dr. H. Undang Rosidin, M.Pd., menyapa hangat kehadiran para tokoh senior dan anggota baru. Beberapa figur penting yang hadir di antaranya:
Prof. Dr. Nandi Haerudin (Dosen Teknik Unila), Prof. Dr. Helmy Fitriawan (Mantan Dekan Teknik Unila)Dr. Arif Rahman (Wakil Rektor II Itera), Kang Acep (Kejaksaan Tinggi Lampung), Abdul Karim, M.Pd. (Anggota Dewan Pendidikan Provinsi Lampung). Prof. Undang berharap kepengurusan periode hingga 2029 dapat terus melanjutkan program strategis, termasuk pengembangan pendidikan dan pelestarian budaya Sunda di Lampung. Selain aspek religi, pertemuan ini juga membahas persiapan Lampung Sundanese Art Festival (LSAF) ke-8 yang direncanakan digelar di Lampung Selatan.
Acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Ust. Zaenal Abidin dan dilanjutkan dengan berbuka puasa bersama seluruh anggota paguyuban. (*)


















