Bandar Lampung (CL) — Yayasan Jannatun Naim Lampung (Janala) menggelar Tabligh Akbar memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Jannatun Naim, Jl. Wan Abdulrahman No. 13, Batu Putuk, Kec. Teluk Betung Barat, Kota Bandar Lampung, Selasa, 25 Agustus 2026.
Ketua Yayasan Janala, Prof Ujang Suparman, M.A., Ph.D mengatakan, kegiatan tersebut dihadiri sekitar 700 orang jemaah mulai dari siswa dan siswi SMP & SMA JaNIC, seluruh pendiri dan pembina serta pengurus SMP & SMA JaNIC, Majelis Taklim sekitar Kecamatan Teluk Betung Barat, Guru/Ustaz/Ustazah di lingkungan Mahad Jannatun Naim dan masyarakat sekitar yayasan Janala.
“Tujuan kegiatan ini untuk meningkatkan kecintaan terhadap Rasulullah SAW dengan meneladani akhlak dan pribadi Rasulullah SAW. Kemudian meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT,” kata dia dalam rilis yang diterima Cendekialampung.com.
Sementara itu Mudir’Am Mahad Jannatun Naim Lampung Syeh Zaki Mubarok, LC, M.A mengaku bangga bisa menghadirkan penceramah Ustaz Dr KH Ahmad Ikhwani, Lc., MA sebagai Ahli atau pakar Hadist lulusan dari Al Azhar Kairo Mesir. “Semoga dapat memberikan pencerahan kepada para jamaah pengajian tentang siroh nabawiyah,” ujar dia.
Enam Syarat Menuntut Ilmu
Pengajian Maulid Nabi Muhammad SAW diawali dengan pembacaan kalam Ilahi oleh Naila siswi kelas X SMA JaNIC. Selanjutnya penceramah Dr KH Ahmad Ikhwani, Lc., MA menyampaikan bahwa untuk menjadi manusia hebat melalui belajar atau menuntut ilmu harus punya enam syarat menuntut ilmu, yakni kecerdasan, punya semangat, punya kesabaran yang tinggi, punya biaya, punya pembimbing/guru/Ustaz, dan waktu yang panjang.
“Kecerdasan (Dzaka’), yaitu Kapasitas dan ketajaman berpikir untuk memahami pelajaran, yang bisa diasah melalui latihan dan ketekunan,” kata Ahmad Ikhwani.
Selanjutnya semangat/ketamakan (Hirsun), yakni rasa haus dan antusiasme tinggi yang membuat seseorang tidak pernah puas dengan ilmu serta tidak mudah menyerah. “Kemudian kesungguhan (Ijtihad), yaitu kerja keras dan keseriusan dalam proses belajar, sebab ilmu tidak akan didapat oleh orang yang bermalas-malasan,” ujar Ketua Komisi Fatwa MUI Provinsi Lampung itu.

Kemudian biaya/bekal (Bulghah), yakni pengorbanan materi atau ketersediaan logistik (buku, tempat tinggal, dan kebutuhan hidup) agar fokus belajar tidak terganggu.
“Petunjuk Guru (Irsyad al-Ustadz), yaitu bimbingan dari seorang guru agar pemahaman ilmu tidak keliru serta memerhatikan adab dan akhlak,” kata Doktor Hadist Al Azhar Mesir itu.
Selanjutnya waktu yang Lama (Tulu Zaman), yakni kesadaran bahwa proses belajar membutuhkan waktu yang panjang dan tidak bisa didapat secara instan.

Ahmad Ikhwani juga menjelaskan hadis tentang sifat atau amalan utama, yakni enam perkara penjamin keselamatan/surga
“Yang pertama berperilaku jujur, menepati janji, tunaikan amanah, jagalah pandangan, jagalah tangan kalian dan jangan menyakiti orang lain,” ujar dia.
Kegiatan tabligh akbar yang dimulia pada pkl 13.15 WIB itu berakhi pada pkl 15.15 WIB. (*)


















